Sekolah

Cerita-cerita yang terjadi di sekolah

Cerita Sehari-Hari

Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari

Internet

Segala sesuatu yang berhubungan dengan internet dan blogging

Jamban Blogger

Jamban Blogger

Tulisan Jaw merupakan anggota dari Jamban Blogger

Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Wednesday, 10 August 2016

(Masih Tentang) Full Day School

Awalnya pengen nulis tentang wacana #FullDaySchool disini, untuk kemudian tersesat di twitterland saat mencari materi tulisan. Saya lihat tanggapan twitterian jauh lebih beragam dan "kejam" mengenai wacana ini dibandingkan dengan jamaah fesbukiyah maupun alayer instagram (no offense to anyone karena saya pengguna ketiga media sosial tersebut).

Menarik membaca berbagai tanggapan yang ada, dan yang paling menarik perhatian saya kontroversi klaim dari bapak menteri yang menyatakan ide Full day School terinspirasi dari sistem pendidikan di Finlandia (yang dinyatakan) sebagai sistem pendidikan terbaik di dunia. Banyak yang membantah klaim tersebut, dikatakan bahwa sistem pendidikan tidak seperti yang dibayangkan bapak menteri. (Dua artikel tentang sistem pendidikan di Finlandia bisa dibaca disini dan disini)

Menurut saya ada dua "kesalahan" dari "wacana" mengenai Full Day School ini. Yang pertama, wacana ini terkesan mendadak, tergesa-gesa untuk di lontarkan. Sebagai orang yang memiliki jabatan Muhajir Effendi seharusnya memahami bahwa apapun yang dia ungkapkan terlebih dihadapan media, merupakan ucapan dia sebagai seorang menteri, bukan obrolan beliau sebagai orang biasa (obrolan warung) yang bisa dianggap angin lalu dan tak perlu ditanggapi. Butuh pemikiran dan persiapan yang baik dan matang. Terlebih saat pertama kali dilontarkan tidak ada penjelasan detail mengenai konsep Full Day School yang dimaksud, baru kemudian keesokan harinya ada penjelasan yang (agak) detail mengenai konsep yang dimaksud. Namun ada jeda waktu yang cukup untuk menjadikannya sebagai sebuah polemik (terlebih di era dimana orang bebas mengungkapkan pendapat di berbagai media sosial). Menjadi anti klimaks ketika sore harinya beliau kembali mengungkapkan bahwa apa yang beliau katakan sebelumnya baru berupa wacana yang tidak harus terlaksana, sementara polemik, diskusi dan debat mengenai hal ini sedang hangat-hangatnya. Perlu dipahami juga kalau emikiran dan persiapan matang tidak mesti juga memakan waktu lama dalam memutus/ mengungkapkan gagasan.

Hal kedua yang menurut saya sebagai sebuah kesalahan (fatal) adalah klaim beliau kalau beliau terinspirasi dari sistem pendidikan di Finlandia. sebuah klaim yang segera mendapatkan bantahan disertai fakta-fakta karena sistem pendidikan di Finlandia tidak sesederhana itu (bahkan pembelajaran di sekolah - terutama sekolah dasar tidaklah sepanjang jam belajar di Indonesia). Tidak ada salahnya meniru/terinspirasi oleh sistem pembelajaran di negara lain, terlebih sistem pendidikan di Finlandia diakui sebagai yang terbaik di dunia. Tapi perlu dilihat baik-baik esensi (inti) dari sistem pendidikan di negara tersebut dan mana yang bisa diambil dan diterapkan di negara kita. Jangan sampai gagal paham seperti kemarin, hanya karena anak-anak di Finlandia pulang pukul 3-4 sore dikiranya mereka full day school, padahal aslinya mereka masuk sekolah pukul 8-9 pagi.

Kesimpulan:
Banyak kekurangan dalam sistem pendidikan Indonesia. Semua orang menginginkan perubahan dan pembenahan agar lebih baik yang pada akhirnya menghasilkan anak didik yang mumpuni. Dan Menteri Pendidikan sebagai pemimpin yang mengarahkan perubahan dan pembenahan tersebut harus memiliki kebijakan dan strategi dalam melangkah. Semoga harapan semua orang agar pendidikan Indonesia lebih baik bisa terlaksana, dan "kesalahan" di awal masa kepemimpinannya ini menjadi bahan pembelajaran untuk kedepannya bisa mengeluarkan kebijakan yang pas dan diperlukan.


Thursday, 10 March 2016

Mengenai Gagal Paham

Cerita ini terjadi beberapa waktu lalu saat ujian, saya lupa ujiannya apa. Yang saya ingat waktu itu saya nggawas di kelas 9. Saya nggawas bersama seorang guru senior (secara usia maupun kepangkatan), sebut saya namanya Mr. X (bukan profesor X yah :D). 

"Selamat pagi semuanya, ada yang kurang sehat hari ini?" Sapa Mr. X kepada anak-anak. 

Weh... Koq agak-agak berasa gimana itu yah sapaannya? Kenapa nggak bilang

"Sehat-sehat semuanya?" atau

"Ada yang sakit/ tidak enak badan hari ini?"

Oh well.... dan ternyata sapaan tersebut di tanggapi oleh anak-anak. Salah satu (sebut saja namanya Tulkijo) yang duduk di belakang menjawab

"Kurang uang pak." Katanya dengan nada bercanda sambil senyam-senyum.

Mr. X dengan nada agak naik bertanya

"Apa Jo?" 

Entah beliau beneran nggak dengar dengan jelas atau alasan yang lain. 

"Kurang uang pak." Kata Tulkijo dengan nada mbleret (lebih rendah, agak-agak di seret).

"Apa! Coba ulangi!" Kata Mr. X dengan nada yang lebih tinggi.

Dan (seperti yang sudah di duga), semakin mbleret lah si Tulkijo di bentak oleh Mr. X . Adegan pun berlanjut ke Mr. X memahari Tulkijo karena clometan (suka menyeletuk). 

Tulkijo memang anaknya suka becanda, menganggu temannya, nyeletuk saat pelajaran, tidur dan berbagai tingkah kenakalan dan kejahilan serta kejahilan lainnya saat di sekolah. Celetukannya sering kali keluar jalur, namun tak jarang masih di "jalur yang benar" kalau saya bilang lebih ke arah pencair suasana. Tinggal bagaimana kita menghadapinya.

Salah satunya di kejadian ini, Mr. X sebenarnya dikenal sebagai guru yang cukup dekat dengan anak-anak, sering becanda dengan mereka. Entah beliau saat itu tengah ada pikiran/ masalah di luar sekolah yang terbawa ke tempat pekerjaan. Atau beliau berpikiran negatif terhadap Tulkijo yang sudah ber "cap" anak bandel karena tingkahnya sejak kelas 7.

Saya merasa berada di posisi serba salah, saya tahu kalau Tulkijo tidak salah, bahwa kemarahan Mr. X salah sasaran, namun saya tidak bisa menegur/ menasehati Mr. X. Saya tidak bisa menemukan cara/ kata-kata yang pas, tidak menyinggung perasaan beliau dan tidak berkesan menjatuhkan beliau (terlebih di hadapan anak-anak).

Yang pada akhirnya saya lakukan adalah saya membesarkan hati Tulkijo, saat membagikan soal maupun saat meneliti pekerjaan anak-anak, saya sampaikan ke dia.

"Yang sabar ya Jo, jangan dimasukin hati. Hanya salah paham. Saya tahu koq kalau kamu tidak salah."

Semoga saja dia bisa menerima kata-kata saya, dan bisa "mengalah" walaupun dia masih kecil. Yang jelas, semula wajah dia ditekuk agak-agak gondok karena habis dimarahi, jadi sedikit berkurang. Terlebih saat melihat Mr. X ketiduran, dia yang paling semangat bilang:

"Pak di foto pak... "

"Jangan..." Kata saya sambil tersenyum

"Loh pak... Mr. X suka foto anak-anak klo pada lagi tidur di kelas loh..." Kata Tulkijo yang di iya kan oleh teman-temannya. 

Sekali lagi saya cuman ketawa kecil, walaupun dalam hati pengen juga ambil foto, tapi ya .. nggak sampai hati. Belum lagi ntar jadi gaduh kalau saya menuruti permintaan mereka.

Gagal paham, sering kali terjadi antara peserta didik dan guru, bukan hanya guru yang gagal paham terhadap apa yang disampaikan oleh peserta didik, tak jarang peserta didik yang gagal paham terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Kehati-hatian oleh kedua belah pihak, mengatur emosi (terlebih guru sebagai yang lebih tua dan di tuakan) dan komunikasi yang baik. 

Saya pun sering kali mengalami gagal paham, terlebih kalau masuk kelas, yang satu bilang A, lainnya menyeletuk, yang lain lagi bilang apa lagi. Banyak informasi yang masuk, susah untuk saya tangkap. Biasanya saya akan bertanya dengan yang bersangkutan

"Apa? Ulangi saya tidak dengar." Dengan nada suara yang biasa, tidak naik yang menimbulkan kesan saya marah.

Dan kalau si anak mbeleret, saya akan berkata

"Apa? Ulangi tho, saya mana denger kalau kamu ngomongnya kayak gitu." Sambil menjaga nada suara saya tetap biasa dan kalau perlu mendekat kepada anak yang bersangkutan.

Dan ternyata hasilnya lebih positif, melatih anak untuk bisa mengungkapkan (berkomunikasi) dengan baik dan mencegah terjadinya gagal paham diantara guru dan peserta didik.

Saturday, 20 February 2016

Cerita Tentang Home Visit

Untuk menghadapi Ujian Nasional peserta didik kelas 9 disibukkan oleh berbagai macam kegiatan, diantaranya adalah try out UN, yang pelaksanaannya sampai beberapa kali. Ada try out yang diadakan oleh sekolah, ada juga try out kota (yang diadakan kemendiknas) dan try out dari kemenag (karena sekolah kami madrasah yang berada di bawah kemenag.

Try out kemenag sendiri diadakan hari Senin-kamis kemarin (15 -18 Februari 2016). Anak-anak, terutama kelas 9 sebenarnya sudah berkali-kali ditekankan pentingnya (semua) kegiatan sekolah, jangan sampai tidak masuk kelas dengan tanpa keterangan/ sebab yang jelas.Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga anak-anak. Ada saja yang membolos.

Salah satunya, seorang siswi kelas 9 sebut saja namanya Kenanga (karena Mawar sudah terlalu mainstream :D). Di hari kedua try out kemarin dia tidak masuk sekolah tanpa ada ijin. Berkali-kali nomor teleponnya di hubungi pun juga tidak diangkat. Setelah berkoordinasi dengan kesiswaan dan kurikulum diputuskan untuk melakukan home visit. Dan dengan mekanisme hompimpah saya lah yang dipilih untuk home visit. Just kidding... Bukan hompimpah, tapi yah pokoknya saya lah yang diminta untuk home visit. 

"Home visitnya nanti siang aja gimana bu, sekalian pulang." Kata saya, karena saat itu saya tengah tugas mengawasi ruangan.

"Jangan pak, seusai try out aja. Nanti kalau ditanya kepala sekolah ndak nggak bisa menjawab. Lagian rumahnya dekat koq pak" Kata waka kurikulum.

"Kemarin juga ada anak yang nggak masuk, alasannya juga sederhana." Katanya menambahkan.

Yaudahlah ya. Seusai try out dan saya mendapatkan ancer-ancer, berangkatlah saya menuju rumah Kenanga. Memang tidak jauh dan tidak terlalu sulit untuk di cari. Cukup sekali bertanya kepada tetangganya untuk memastikan rumah yang bersangkutan.

Sesampai di rumah Kenanga, saya disambut oleh seorang ibu yang berumur sekitar 50 - 60an, namun masih terlihat energik.

"Ibu, Kenanganya ada?"

"Oh ada, bentar. Masuk dulu pak guru"

"Nduk... Kesini, ada pak guru yang dateng." Kata si ibu memanggil Kenanga.

Sambil menunggu Kenanga, saya pun berkata.

"Begini bu, anak-anak kelas 9 kan sekarang sedang ada try out, dan hari ini Kenanga tidak masuk sekolah. Saya kesini untuk mengetahui alasan kenapa tidak masuk hari ini."

"Iya pak, tadi sebenarnya dia sudah akan masuk, tapi sepedanya rusak." Kata si Ibu

Tengah si ibu bicara, Kenanga muncul dari dalam rumah, dengan muka agak sembab seperti habis menangis.

"Kamu kenapa nggak masuk?" Tanya saya kepada Kenanga.

"Sepedanya rusak pak, rantainya copot-copot." 

"Kalau rusak kan bisa dibenerin."

"Iya pak guru, kemarin saya sudah bilang, kalau sepedanya bawa ke bengkel, trus paginya tinggal ambil sekalian berangkat sekolah. Tapi kemarin sore hujan." Kata si ibu.

Saya dengerin si ibu bicara, kemudian bertanya kepada Kenanga

"Kamu nggak berangkat sama teman kamu?"

"Tadi pagi udah telepon si Kantil pak, tapi nggak diangkat." Kata Kenanga.

"Kenapa kamu tidak SMS? Tadi Kantil cerita kalau ada telepon dari kamu, trus dia SMS kamu, tidak di balas, telepon juga tidak diangkat. Tadi saya juga telepon kamu berkali-kali juga tidak diangkat."

"Pulsanya habis pak, cuman bisa buat telepon doang (missed call). Tak taruh di dalam lemari, nggak tau kalau ada telepon masuk."

#FacePalm -______-
#KemudianHeningDuahari

Kemudian si ibu berkata,

"Mbahe juga sudah mengingatkan pak guru, sekolah yang rajin. Kalau sepedanya rusak bisa dibawa ke bengkel, dia bisa ke sekolah naik becak. Yang tinggal disini hanya mbahe, dia sama pakdhe dia, semua sibuk kerja. Bapak dan ibu dia kerja di Jakarta."

Oh... Ternyata beliau simbah si Kenanga, bukan ibunya.

"Saya udah pernah bilang ke ibunya Kenanga, seharusnya aku sudah nggak ngurusi hal-hal seperti ini, sekolah ada, dan lain-lain, dan lain-lain...."

Weleh... Malah curcol si ibu :D

"Tapi kan terlambat pak kalau naik becak..." Kata si Kenanga.

"Terlambat dikit kan nggak apa-apa, mending terlambat 15 atau 30 menit, daripada tidak masuk sama sekali."

"Tapi nanti kan di kecrohi (diejek/ di olok-olok) sama temen-temen..." Kata Kenanga membela diri.

"Jyaaah... Kamu kan udah kenal temen-temen kamu selama hampir 3 tahun, olok-olok mereka juga cuman gitu aja, paling cuman hari ini doang, besok juga udah nggak lagi. Lagian kamu juga sering olok-olokan sama teman kamu tho?"

Kenanga cuman nyengir.

"Trus... Ini kamu mau masuk sekolah atau enggak?" 

"Mau pak..." Kata Kenanga agak-agak malu.

"Yaudah kalau begitu, mau naik apa?"

"Di bonceng pak guru, nanti tasnya di taruh tengah."

Saya cuman bisa garuk kepala.

"Saya siap-siap, pamit sama simbah. Saya tunggu di luar."

Thursday, 18 February 2016

Menyoal Kesejahteraan Guru

Kesejahteraan guru merupakan sebuah topik yang riskan, bahkan bisa dikatakan cenderung tabu untuk dibicarakan. Dikarenakan sebagian besar masyarakat (terlebih yang tidak berkecimpung di dunia pendidikan dan atau memiliki saudara yang bekerja sebagai pengajar) berpendapat bahwa SEMUA guru sekarang sudah sejahtera, tanpa memahami bahwa ada dua jenis guru, yaitu guru PNS dan guru honorer. Dan yang kesejahteraannya terjamin adalah guru PNS, sedangkan guru honorer masih belum bisa dikatakan sejahtera.

Ada perbedaan yang dalam diantara guru PNS dan honorer dalam hal kesejahteraan. Guru PNS, selain mendapatkan gaji sesuai UMK, juga mendapatkan berbagai macam fasilitas serta tunjangan diantaranya tunjangan kesehatan (BPJS Kesehatan), tunjangan hari tua (BPJS Ketenagakerjaan), tunjangan anak dan istri (bagi laki-laki yang sudah menikah) yang kesemuanya diterima setiap bulannya. Selain itu juga ada gaji ke-13 yang diterima setiap tahun dan juga tunjangan fungsional yang diterima setiap semester (besarnya sama dengan yang diterima guru honorer). Bahkan saya sempat membaca jika ada gaji ke-14 untuk PNS (sumber disini, walaupun jujur agak ragu juga dengan sumbernya, mungkin ada yang bisa mengklarifikasi?). Dengan segala fasilitas dan tunjangan tersebut, maka sangat bisa dikatakan jika guru PNS sudah (sangat) sejahtera.

Di lain pihak, untuk guru honorer, pendapatan bulanan yang di dapat adalah dari honor yang besarnya di tentukan sesuai dengan kemampuan sekolah masing-masing. Dan tunjangan fungsional yang diserahterimakan setiap semester. Sementara tanggungjawab dan tuntutan profesi sama dengan guru PNS, tidak kurang. 

Hampir menjelang peringatan hari guru, hari pendidikan nasional maupun menjelang pemilu/pilkada sering diangkat kisah guru honorer yang berjuang untuk mencukupi kehidupannya. Disebutkan bahwa gaji mereka di bawah UMR, bahkan ada yang hanya Rp 500.000,- (lima ratus ribu rupiah per bulan) atau bahkan lebih rendah lagi hanya Rp 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah) per bulannya. Hal itu merupakan realita nyata. Bukan settingan seperti yang sering kali kita lihat di acara reality show yang muncul di TV.

Perbedaan yang besar itulah yang menyebabkan sebagian guru honorer, terlebih yang sudah puluhan tahun menjadi guru honorer menuntut untuk diangkat menjadi PNS. Barangkali terinpirasi oleh gerakan kaum buruh berani yang menyuarakan aspirasi mereka dan akhirnya di dengar oleh pemerintah. Bedanya demo buruh kebanyakan diikuti oleh puluhan bahkan ratusan ribu buruh dan biasanya berakhir anarki sedangkan demo guru cenderung lebih tenang dan dengan peserta tidak sebanyak demo buruh.

Di sisi lain, pemerintah sebagai pihak yang dituntut tentu saja merasa gelagapan dengan tuntutan dari para guru. Demo terakhir diikuti oleh sekitar seribu orang guru honorer (sumber disini). Semacam sedih melihat video tersebut, karena saat peringatan hari Pendidikan Nasional sebelumnya bapak presiden berkenan untuk sungkem (mencium tangan) kepada guru beliau (sumber) namun tidak berkenan untuk menemui guru honorer yang tengah berdemo. Ah... Mungkin beliau terlalu lelah mengurus segala urusan negara, sehingga tidak berkesempatan untuk bertemu guru honorer yang berdemo.

Bayangkan berapa banyak duit yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, jika harus mengangkat seribu orang guru honorer untuk menjadi PNS. Ada banyak hal yang harus dipikirkan dan dikerjakan oleh pemerintah, dan pendidikan, khususnya kesejahteraan guru honorer bukanlah prioritas dari pemerintah. Masih banyak permasalahan lainnya yang jauh lebih penting daripada hal tersebut.

Kesejahteraan tidak melulu mengenai uang, untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer tidak melulu harus mengangkat mereka menjadi PNS. Ada beberapa hal yang menurut saya bisa menjadi usulan/pilihan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer.

1. Selama ini besaran honor untuk guru honorer ditetapkan oleh sekolah, pemerintah tidak ikut campur dalam menentukan besaran honor dan sumber pendanaan untuk honor guru honorer adalah dari komite (dana sekolah) dan juga dana BOS. Jika dana komite besar maka sekolah mampu memberikan honor yang besar pula, dan sebaliknya. Dana BOS bisa dikatakan sebagai pelengkap saja. Sudah saatnya hal tersebut diubah. Pemerintah sudah seharusnya menentukan besaran minimal honor di sesuaikan dengan kebutuhan tiap daerah dan memberikan subsidi yang lebih besar untuk mencukupi hal tersebut.

2. Dalam forum rapat guru sekolah pernah dibahas mengenai bisa tidak guru honorer diikutsertakan dalam program BPJS (baik kesehatan maupun ketenagakerjaan). Namun kepala sekolah belum bisa memberi kepastian, dikarenakan begitu banyaknya program pemerintah, ada BPJS, ada kartu Indonesia Sehat, kartu Indonesia Pintar, dll, dll. Kepala Sekolah khawatir nantinya salah langkah, dan atau setelah mengambil kebijakan, ternyata ada kebijakan baru dari pemerintah yang tidak sama dengan kebijakan yang beliau ambil, yang akhirnya (mau tidak mau harus di ubah). Yang mana, sampai sekarang belum ada kebijakan apapun dari pemerintah berkenaan dengan hal itu. Di lain, saya pernah mention bapak Anies Baswedan selaku mendiknas mengenai guru honorer dan BPJS (Kesehatan dan Ketenagakerjaan). Dan sampai sekarang masih juga belum di balas. Ah.... Aku mah apah atuh? Khayalan tingkat dewa deh klo nggarep tweetnya di bales :))

Selama ini sakit dan juga masa pensiun merupakan "momok" bagi guru honorer, dengan penghasilan yang yah... segitu adanya, biaya berobat dan yang tinggi, ada ketakutan untuk sakit, selain takut untuk disuntik, terutama takut juga untuk melihat dan membayar tagihan rumah sakit/ dokter :D Selama ini, saya menjadi anggota BPJS Kesehatan mandiri, walaupun jarang sakit, namun jaga-jaga kalau sewaktu-waktu sakit dan pas tidak ada dana, saya tidak takut untuk ke dokter/ rumah sakit untuk berobat. Sementara untuk masa pensiun, guru honorer hanya bisa mengimami bahwa rejeki setiap mahkluk diatur oleh Yang Maha Kuasa, udah pokoknya percaya aja, nggak usah mikir yang macem-macem :D

Harapan saya, guru honorer juga disamakan dengan pekerja dan PNS lainnya, diikutkan dalam program BPJS baik Kesehatan maupun Ketenagakerjaan, karena kami sama, untuk tingkatan/kelasnya bisa disesuaikan dengan masa kerja. Toh dana untuk BPJS sebagian di potong dari gaji pekerja, sementara sebagian lagi baru diambil dari dana perusahaan/ tempat bekerja. Jadi jika guru honorer diwajibkan untuk diikutkan dalam program BPJS juga tidak akan terlalu memberatkan pemerintah

3. Dengan kondisi perekonomian biaya tinggi seperti sekarang ini, dimana harga kebutuhan membumbung tinggi, sementara honor guru honorer sekali lagi tergantung pada kemampuan masing-masing sekolah. Saya rasa pemerintah dalam hal ini pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan pemilik usaha untuk memberikan kontribusinya untuk membantu guru honorer. Tidak perlu membuat program baru, kartu diskon untuk guru, tapi bisa memanfaatkan kartu pengenal yang dikeluarkan sekolah masing-masing, atau memanfaatkan kartu Identitas PTK dikeluarkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional yang harus kami cetak setiap semesternya. Yang mana sampai sekarang saya masih belum paham kegunaannya untuk apa, selain sebagai kartu identitas tentu saja. Katakanlah memanfaatkan kartu identitas tersebut sebagai kartu diskon. Mungkin terdengar aneh dan menggelikan, namun kenapa tidak. Sejauh ini yang memberikan perlakuan tersebut adalah toko buku Gramedia, namun sayangnya hanya saat tertentu saja (kalau tidak salah Hari Pendidikan Nasional dan Hari Guru). Dengan berpartisipasinya pemilik usaha menjadi bukti nyata kepedulian masyarakat terhadap kesejahteraan guru honorer dan sedikit banyak membantu meringankan beban pemerintah dalam kewajibannya menyejahterakan guru honorer.

Kesimpulan:
Sampai sekarang, gema sanjungan kepada guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, guru sebagai penentu masa depan, guru sebagai agen perubahan, dll, dll segala macam sebutan dan sanjungan tidak henti-hentinya diberikan kepada guru. Berbagai macam kegiatan simbolis diadakan saat peringatan Hari Guru dan Hari Pendidikan Nasional, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Dari mulai cium tangan sampai dengan membasuh kaki guru. Namun segala macam bentuk sanjungan dan juga kegiatan simbolis tersebut hanyalah bersifat maya. Guru honorer juga manusia biasa, dengan segala macam tuntutan hidupnya Sudah selayaknya dan seharusnya pemerintah memperhatikan kesejahteraan semua guru, termasuk guru honorer. 

Tulisan ini juga diposting di kompasiana

Wednesday, 17 February 2016

Semangat Siswa Mengikuti Ekstra Kurikuler


Origami merupakan salah satu ekstra kurikuler (ekskul) di sekolah kami, dan saya ditunjuk sebagai pengajarnya. Kegiatan ekskul ini sudah berlangsung selama 2 tahun berjalan, dengan sambutan siswa yang tidak terlalu antusias (paling tidak jika dibandingkan dengan ekskul olah raga). Di awal tahun pelajaran kemarin saya sempat menyampaikan kepada wakasek kesiswaan yang membawahi semua kegiatan ekskul di sekolah mengenai jumlah siswa yang mengikuti ekskul origami yang tidak seberapa banyak tersebut, tapi beliau menyampaikan bahwa tujuannya bukan seberapa banyak siswa yang terjaring mengikuti kegiatan ekskul, melainkan memberikan pilihan kepada siswa, kegiatan di luar KBM yang bisa mereka ikuti.

Baiklah kalau begitu, amanahpun saya jalankan dengan sebaik-baiknya.

Di awal semester pertama kemarin, sekolah kami sempat di sibukkan dengan persiapan akreditasi. Hampir setiap hari Jumat seusai sholat Jumat selama kurang lebih 2/3 bulan diadakan rapat persiapan akreditasi yang diikuti oleh semua perangkat sekolah. Yang mana, pada hari dan jam yang sama merupakan jadwal untuk kegiatan ekskul origami. Jadi selama itu pula mau tidak mau ekskul origami pun ditiadakan. Agak sayang juga sih, tapi untungnya anak-anak bisa di "tenangkan" agar tidak terlalu kecewa.

Usai segala macam kegiatan yang berhubungan dengan akreditasi, kembali ke ekskul origami. Koq jadi adem ayem ya? Anak-anak tidak ada yang datang, nggak ada juga yang datang ke perpus dan bertanya 

"Pak nanti origami tidak?" 

Semacam kangen dengan pertanyaan tersebut :D

Saya pun kemudian berinisiatif, menanyai anak-anak satu per satu. Daaaan... Semuanya kompak menjawab tidak lagi bisa ikut ekskul origami. Ada yang berasalan karena membantu orang tua di rumah, momong adiknya, momong simbahnya (?). Ada juga yang berasalan karena mengikuti ekskul lain dengan jadwal yang sama.

Yaudahlah ya, yang penting saya sudah dapat jawabannya, kemudian saya pun laporan kepada wakasek kesiswaan agar tidak timbul pertanyaan

"Pak ekskul origami koq nggak jalan lagi?"

Dan beliau bisa menerima laporan saja. Sampai dengan semester satu usai dan awal semester dua, ekskul origami tidak jalan, alias berhenti beraktifitas. Memasuki awal semester dua, muncul trend baru, sekelompok siswa kelas 9 sering datang ke perpustakaan dan minta untuk diajari origami. Mungkin karena sering melihat saya sibuk melipat kertas, dan beberapa origami yang saya pajang di perpustakaan.



Saya pun menyanggupi selama tidak menganggu pelajaran mereka. Hampir setiap istirahat mereka selalu datang dan belajar origami bersama-sama. Well... It's quite fun actually, walaupun sering kali harus ribet karena harus melayani anak-anak yang meminjam/mengembalikan buku dan atau meminta LKS. But... It's still fun :D

Rupanya kegiatan ini dilihat dan menarik perhatian siswa-siswa yang lainnya (it's obvious isn't/). Hingga awal bulan Februari kemarin, salah satu siswa yang semester kemarin ikut ekskul origami bertanya kepada saya

"Pak, ekskul origaminya koq nggak ada lagi?"

Well... Pertanyaan yang, somehow sudah lama saya tunggu :D

"Yaudah, kamu tanya ke teman-teman kamu, siapa saja yang mau ikut ekskul origami lagi, ntar habis itu laporan ke saya."

Sengaja saya minta anak-anak untuk aktif, untuk menguji seberapa besar semangat mereka untuk mengikuti ekskul origami. Selang beberapa hari kemudian, si anak kembali.

"Origaminya di mulai lagi ya pak? Saya sudah dapat temen-temen yang mau ikutan." katanya

Setelah menentukan jadwal dan peraturan/ tata tertib yang harus mereka patuhi, kegiatan ekskul pun bisa mulai dilaksanakan. Penekanan saya lebih kepada keseriusan mereka dalam mengikuti ekskul, karena mereka yang meminta, mereka harus rajin dan tidak boleh membolos. Semacam kontrak belajar gitu deh.


Tidak saya sangka ternyata cukup banyak juga yang ikutan, ada sekitar 10 orang siswa kelas 7 yang ikutan. Saya tidak berharap bisa sampai segitu soalnya, perkiraan saya cuman 5 orang soalnya :P

Tapi tidak terlalu banyak, sehingga masih bisa di handle. Tidak mudah rupanya, walaupun dengan kelas yang super kecil, dan materi yang saya sampaikan juga masih berupa dasar, tapi karena kebanyakan dari mereka banyak yang belum bisa, maka proses pembelajarannya pun juga berjalan lambat. Sekali pertemuan hanya bisa satu - dua materi origami, itu pun saya harus pelan-pelan dalam mengajarkan. Langkah demi langkah harus perlahan. Seperti bayi yang baru belajar berlajan, setapak demi setapak.

Yang sering kali bikin gemes, kalau ada anak yang cepat paham, sementara temannya yang lain belum paham.

"Sudah pak, habis ini gimana?" Kata yang sudah paham

"Bentar pak, jangan cepat-cepat." Kata yang yang ketinggalan

Saya cuman bisa nyengir sambil tepok jidat.

Segala hiruk pikuk di kelas kecil ini memang, sedikit banyak melelahkan, namun demikian juga menyenangkan, berinteraksi dengan anak-anak. Belajar bersama melipat kertas. satu hal yang saya harapkan sih anak-anak tetap semangat dalam mengikuti ekskul origami, dan apa yang mereka dapatkan di ekskul ini bisa bermanfaat buat mereka

Monday, 15 February 2016

Kelebihan atau Kekurangan Guru?




2 hari lalu, seorang teman saya di facebook membagi tautan yang menarik perhatian saya. Tautan tersebut membeberkan mengenai statistikjumlah guru dan peserta didik di Indonesia. Menarik karena disitu disebutkan bahwa pertumbuhan jumlah guru (honorer) jauh lebih pesat daripada pertumbuhan jumlah peserta didik (siswa). Dengan kata lain jumlah guru tidak seimbang dengan jumlah peserta didik. Kalau boleh saya menterjemahkannya jumlah guru di Indonesia berlebihan (menurut data statistik tersebut).

Yang mengganjal di pikiran saya adalah, antara statistik dengan realita di lapangan. Secara gamblang tidak usah jauh-jauh mencari contoh di sekolah kami sendiri. Ada beberapa guru mapel yang tidak hanya mengajar di sekolah kami, tapi di dua sekolah bahkan lebih. Ada yang dikarenakan alasan PNS yang diperbantukan (untuk memenuhi tuntutan 24 jam mengajar), ada juga yang karena mapel bersangkutan tidak banyak jumlah gurunya.

Di lain pihak, beberapa waktu yang lalu saya pernah ngobrol dengan guru/ staff sekolah swasta yang sekolahnya mengadopsi sistem pengelolaan sekolah dari luar negeri. Salah satu kebijakan dari sekolah tersebut adalah setiap kelas hanya diisi maksimal 25 peserta didik. Hal ini menarik perhatian saya, terlebih setelah beliau mengungkapkan alasan dari kebijakan tersebut. 

1. Kenyamanan dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) bagi peserta didik dan guru, hal ini berkenaan dengan luas ruangan yang tidak seberapa luas, walaupun kalau saya lihat ruangannya bisa dimaksimalkan untuk 30 orang peserta didik.
2. Alasan kemudahan dalam memahamkan siswa. dengan kelas yang kecil maka guru lebih mudah mengelola jalannya KBM, dan peserta didik lebih mudah menangkap dan memahami materi yang disampaikan oleh pendidik.
3. Kemudahan dalam pembinaan dan pengawasan peserta didik.

Ketiga alasan tersebut jika ditelaah memang ada benarnya. Yang pertama, kebanyakan sekolah konvensional baik negeri maupun swasta lebih memilih untuk memaksimalkan penerimaan jumlah siswa, tak jarang ditemui sekolah dengan kelas besar, 30 - 40 siswa per kelasnya, hal ini seringkali juga dikarenakan pembiayaan kelas, karena pembiayaan (relatif sama) maka serin kali sekolah lebih memilih kelas besar (kelas dengan jumlah peserta didik banyak). Walaupun jumlah ini masih diperbolehkan oleh kemendiknas, namun bisa dibayangkan dan di lihat bagaimana suasana kelas dengan jumlah siswa banyak dengan jumlah siswa sedikit. Jauh lebih nyaman untuk semua penghuni kelas (peserta didik dan guru). 

Yang kedua, seorang guru tidak hanya dituntut untuk transfer ilmu, namun yang lebih penting lagi adalah memahamkan peserta didik akan materi yang dibahas. Memahamkan materi kepada peserta didik akan jauh lebih mudah jika peserta didiknya terbatas. Bayangkan 1 orang guru mengajar di kelas dengan 30-40 peserta didik, dengan berbagai macam karakter, ada yang tenang mendengarkan, ada yang tenang namun diam-diam melamun bahkan tidur, ada pula yang tidak bisa diam nyeletuk, mengganggu jalannya KBM. Hal ini memang erat kaitannya dengan kemampuan untuk untuk penguasaan kelas, ada juga guru-guru yang mampu menguasai kelas besar dengan berbagai macam karakter peserta didik tersebut. Namun akan jauh lebih mudah bagi semua guru untuk menguasai kelas kecil, sehingga jalannya KBM berjalan lancara, dan tuntutan agar guru memahamkan materi kepada peserta didik lebih bisa dicapai daripada dengan kelas besar.

Yang ketiga berkenaan dengan pembinaan dan pengawasan peserta didik, sekali lagi kepada tuntutan dari sistem pendidikan kita, dan juga tuntutan dari masyarakat bahwa sekolah bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu, tapi sebagai tempat untuk membentuk watak dan kepribadian peserta didik. Guru bukan hanya dituntut agar mampu mentransfer ilmunya, membuat peserta didik memahami materi yang disampaikan dan yang tidak kalah penting membentuk akhlak dari peserta didik. Bayangkan sekian banyak peserta didik dengan beraneka ragam latar belakang keluarga, dengan kepribadian yang berbeda-beda pula, harus di hadapi oleh sekelompok kecil guru dengan banyak tuntutan tersebut. Beberapa kali saya ngobrol dengan orang tua peserta didik yang menyatakan

"Saya sudah menyerah mendidik anak saya pak, anaknya susah dibilangin."

Saya rasa saya bukanlah satu-satunya orang yang mendengar penyataan senada. Jika anda seorang pendidik, saya yakin pernah mendengar pernyataan semacam itu, paling tidak sekali. Jika orang tua yang mempunyai tanggungjawab utama terhadap anak, yang hanya menghadapi anak-anaknya saja yang jumlahnya paling banyak 12 orang (saya rasa tidak banyak keluarga seperti keluarga Halilintar, no?) bersikap seperti itu, bagaimana dengan kami para guru, pengajar dan staff di sekolah yang setiap hari harus mengajar, mendidik, membentuk akhlak dari puluhan bahkan ratusan anak di sekolah kami?

Kembali ke sekolah kami, permasalahan guru yang mengajar di dua tempat (atau lebih), dan juga kekurangan guru (saat ini sekolah kami tidak memiliki guru TIK, karena sekolah kami masih menggunakan kurikulum KTSP, sedangkan dikarenakan kurikulum 2013 menghilangkan mapel TIK, banyak guru TIK yang banting setir mencari mata pencaharian lain di luar mengajar) mengganggu jalannya pembelajaran. Idealnya guru hanya mengajar di satu sekolah saja, sehingga guru bisa fokus dalam mendidik peserta didik. Guru bisa menggunakan waktu di luar jam mengajar untuk memahamkan materi bagi peserta didik yan tertinggal (entah dengan memberi semacam kursus singkat, remidi, ataupun bentuk pembelajaran lainnya). Namun karena kesibukan guru yang harus loncat dari satu sekolah ke sekolah lain, hal tersebut tidak bisa dilakukan. Yang bisa dilakukan adalah "pemerataan" jika mayoritas peserta didik dalam satu kelas sudah paham, maka dianggap semua sudah paham. Yang belum paham hanya bisa disarankan untuk belajar secara mandiri (yang mana tidak semua peserta didik memiliki minat untuk belajar secara mandiri).

Kembali ke premis awal, dengan statistik yang menyatakan perbandingan jumlah guru tidak seimbang dengan jumlah peserta didik. Jika statistik ini berdasarkan data riil, maka sangat disayangkan. Kemana guru-guru yang disebut berlebihan tersebut? karena bahkan di sekolah kami yang masih berada di pulau Jawa, di kota yang cukup besar saja masih kekurangan guru. Tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan sekolah di kota-kota kecil/pedesaan, terlebih di luar pulau Jawa. 

Kesimpulan: Saya rasa yang terjadi adalah bukan overquota guru, namun tidak terdistribusikannya jumlah guru secara merata, sehingga di beberapa tempat (kota/provinsi) jumlah guru berlebih, sementara di tempat lain kekurangan jumlah guru. Pemerataan inilah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah.

Tulisan ini juga di posting di kompasiana

Thursday, 6 August 2015

Kejutan Kecil Dari Anak-Anak

Pengelola perpustakaan swkolah hanya ada satu orang, sehingga segala sesuatunya biasa dikerjakan sendiri. Dari pengelolaan buku, sampai ke hal kecil seperti membersihkan perpustakaan (menyapu, mengelap meja dan rak) sampai membuang sampah di keranjang sampah.

Sebenarnya ada petugas yang bertanggungjawab akan kebersihan, bahkan waktu rapat kepala sekolah sendiri sudah menugaskan secara langsung petugas tersebut untuk membantu kebersihan perpustakaan, tapi ya gitu deh....

Untuk pembuangan sampah dulu-dulu sempat ada yang bantuin, tapi sampahnya dibuang tempat sampahnya nggak kembali ke tempatnya, saya harus nyari keluar. Saking jengkelnya akhirnya saya tali pake rafia (di cencang kalau bahasa Jawanya). Sekarang karena perpustakaan di kunci dan (sementara) hanya saya yang memegang kunci. Untuk duplikat kunci sebenarnya saya sudah bilang kalau membutuhkan duplikat silahkan kunci yang ada di saya dipinjam dulu. Karena petugas yang bersangkutan lebih punya waktu longgar untuk keluar dari lingkup sekolah pas jam kerja, sedangkan saya masih ada beberapa pekerjaan yang belum kelar-kelar. Tapi ya gitu deh... Entah apa pertimbangannya sampai sekarang belum di duplikat juga.

Untuk kebersihan perpustakaan sekolah, saya akali dengan minta tolong ke anak-anak. Baik yang suka berkunjung ke perpustakaan, yang kena sanksi/ hukuman bersih-bersih, ataupun yang bertugas piket di UKS (karena sekarang perpustakaan dan UKS berada dalam satu ruangan yang sama). Kadang ada anak-anak yang nggrundel kalau saya mintai tolong, tapi toh akhirnya dikerjakan juga.

Hal lain yang harus dikerjakan sendiri adalah pemeliharaan mebeuler. Meja dan kursi yang dipakai di perpustakaan adalah meja dan kursi berkaki besi berlubang, dan walaupun sudah berkali-kali saya sampaikan agar berhati-hati namun ada saja kursi yang rusak/patah kakinya (entah bagaimana anak-anak duduk). Kalau sebulan ada 1-2 kursi yang rusak, dalam jangka waktu satu tahun habislah kursi yang ada di perpus. Hal tersebut sudah saya laporkan ke petugas, namun tanggapannya hanya di iyakan saja. Terakhir saya laporan, saya disuruh untuk menempatkan kursi2 yang rusak tersebut di gudang (bukannya seharusnya dia yang melakukannya ya? Oh well... yasudahlah toh kursinya ringan saya kuat buat angkat-angkat).

Ditengah kerepotan dan keribetan segala macem hal yang ada di perpustakaan, ada saat-saat yang bagi saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Terutama saat jam istirahat atau pulang sekolah. Tangan saya masih sibuk dengan kerjaan sementara mulut saya harus melayani anak-anak yang bertanya, meminta buku paket/LKS atau meminjam buku. Ada saja anak yang bertanya 

"Ada yang bisa dibantu pak?"


Sumpah saya merasa kayak minum es saat siang hari panas terik. Suatu hal yang sederhana namun sangat berarti. Bersyukur di tengah banyak anak-anak yang ndableg, susah di nasehati, di beritahu, masih ada banyak yang sopan, banyak yang baik. Semoga mereka bisa selamanya menjaga hal-hal baik yang mereka miliki

Monday, 6 July 2015

Mengisi Liburan Panjang

Salah satu kegembiraan, atau bisa saya bilang kegembiraan terbesar dari (sebagian besar) pelajar adalah saat liburan. Bukan tanpa dasar saya menyatakan hal tersebut, sangat sering saya menerima pertanyaan-pertanyaan dari siswa di sekolah kami

"Pak libur panjangnya kapan ya?"

Pertanyan semacam itu mereka lontarkan di pertengahan semester, bahkan tak jarang ada juga yang bertanya di awal-awal semester. Saking seringnya saya menerima pertanyaan tersebut, saya suka ngasal dan cuek jawabnya.

"Ntar hari Minggu kalian libur." Atau kalau enggak

"Ntar tanggal 17 Agustus." Atau tanggal merah hari libur nasional.

Walaupun mereka menanti-nanti dan sangat menikmati liburan, namun sebenarnya mereka bosan juga kalau liburnya terlalu lama. Sering kali sehabis libur panjang giliran saya yang bertanya.

"Liburan kemarin kalian kemana aja?"

Walaupun jawaban mereka beranekaragam, namun ada satu kesamaan

"Bosan pak kelamaan libur di rumah g ada kerjaan, acara TV mbosenin."

Giliran saya yang ketawa mendengar jawaban mereka.

Untuk libur kenaikan kelas tahun ini kebetulan bertepatan dengan puasa Ramadhan dan Idul Fitri dan sekolah kami termasuk salah satu sekolah yang meliburkan seluruh kegiatan KBM selama Ramadhan dan libur Idul Fitri, KBM aktif kembali tanggal 27 Juli 2015.

Saya jadi membayangkan bagaimana kebosanan mereka selama liburan, jika mereka tidak punya rencana/acara untuk mengisi liburan.

Liburan akhir tahun pelajaran tahun kemarin lumayan panjang juga, saya semat menawarkan di facebook saya untuk anak-anak yang mau bisa main ke sekolah untuk belajar origami bersama-sama. Saya pikir daripada mereka tidak ada kerjaan mending di arahkan ke hal yang positif. Kebetulan tahun kemarin ada jadwal piket untuk guru. Namun sayangnya tidak ada anak yang menerima tawaran saya walaupun gratis.

Sementara untuk tahun ini, saya tidak mendapatkan pemberitahuan tentang piket. Satu hal positif sih menurut saya jadi saya bisa fokus untuk mengurus orang tua di rumah :D
Libur sekolah, apalagi libur panjang sekolah merupakan salah satu tantangan lain yang harus dihadapi oleh orang tua sendirian, tidak ada lagi sekolah yang me back up mereka, yang bisa mereka pasrahi kewajiban untuk mendidik anak.

Hal ini menuntut kreatifitas orang tua dalam mengarahkan anak-anak mereka secara mandiri selama liburan. Dan, sebenarnya tidaklah sulit serta membutuhkan biaya yang banyak. Contoh sederhana, melibatkan anak dalam pengelolaan rumah tangga, membagi tugas dan melatih anak-anak tugas-tugas rumah tangga, melibatkan anak-anak dalam pekerjaan (ada beberapa siswa yang memiliki orang tua pedagang, dan sepulang sekolah mereka membantu orang tua berjualan).

Kegiatan lain yang bisa diakukan adalah melibatkan anak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan atau religius, terlebih karena ini bulan Ramadhan, banyak kegiatan seperti TPA, baik menjadi siswa maupun asisten pengajar, membantu ta'mir masjid membersihkan masjid, mengatur masjid sebelum digunakan untuk sholat, dll.

Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif ain yang bisa dilakukan saat libur panjang. Kegiatan-kegiatan yang tidak membutuhkan banyak biaya namun banyak manfaatnya. Tentu saja kegiatan-kegiatan yang membutuhkan biaya semacam piknik atau menonton bioskop pun juga tidak dilarang selama itu sifatnya positif.

Selamat liburan panjang untuk semuanya dan selamat berkreatifitas untuk para orang tua dalam mengasuh putra putrinya selama liburan panjang ini.

Oh iya, blogging juga bisa dijadikan salah satu alternatif yang bisa dilakukan saat liburan :D

Saturday, 14 March 2015

Origami: Tidak Semudah Yang Dikira

Mendengar kata Origami pikiran kita bisa dipastikan melayang pada kegiatan melipat kertas yang dilakukan oleh anak-anak TK. Dan kebanyakan dari kita bisa dipastikan mengatakan kalau origami itu mudah. Namun benarkah demikian?

Sejak awal tahun pelajaran ini sekolah kami mengadakan ekstrakurikuler origami, dan saya ditunjuk sebagai pengajar untuk kegiatan ekstrakurikuler ini.

Seperti halnya kegiatan ekstrakurikuler lainnya, origami boleh diikuti oleh siswa kelas 7 dan 8. Di awal pertemuan saya sempat kaget karena begitu banyaknya siswa yang mengikuti ekskul origami. Sekitar ± 30 orang siswa. Wedew.... Beneran nggak nih? Saya pikir bisa tahan berapa lama ya mereka mengikuti ekskul ini?

Dan benar saya, di minggu-minggu pertama anak-anak antusias, namun memasuki bulan kedua dan seterusnya, jumlah peserta ekskul origami mulai berkurang dan menyusut. Kebanyakan dari mereka beralasan origami itu susah. Nah loh?

Untuk kurikulum/pengajaran ekskul origami saya membuat sendiri berhubung tidak ada kurikulum baku, maupun titipan dari sekolah. Saya bikin sederhana saja, mulai dari pengenalan origami sederhana, baru kemudian meningkat ke origami yang lebih rumit.

Kebanyakan dari anak-anak menyepelekan/menganggap mudah di awal-awal, karena mungkin mereka masih ingat saat diajarkan waktu TK sehingga sudah bosan duluan. Namun ada juga yang kemudian banyak menyerah saat memasuki tingkat yang lebih sulit sehingga memutuskan untuk tidak ikut ekskul origami lagi.

Satu hal yang membahagiakan saya adalah walaupun jumlahnya jauh menyusut hingga tinggal tersisa ± 10 orang siswa, namun semangat mereka tetap tinggi, hampir tiap minggu mereka bertanya

"Pak nanti origami kan?"

Atau bertanya

"Nanti kita bikin apa pak?"

Semangat yang patut di apresiasi dan membuat saya bersemangat dalam berbagi ilmu dengan mereka dan mencari ide-ide baru agar mereka lebih bersemangat lagi.
Satu hal lagi, kalau mereka saya ajari sesuatu yang baru banyak teman-teman mereka yang iri minta dibikinin ataupun minta diajari bikin :D

Tuesday, 10 March 2015

Belajar Dari Sekolah Lain

Dari tanggal 2 - 5 April 2015 kemarin, saya mendapat tugas menjadi pengawas luar untuk kegiatan LUN (Latihan Ujian Nasional) tingkat kota Surakarta. Saya ditempatkan di sebuah sekolah swasta berbasis agama Kristen di timur kota Surakarta. Selama bertugas disana, ada beberapa hal positif yang menarik perhatian saya, dua diantaranya akan saya bahas di tulisan berikut.

Yang pertama mengenai doa di awal dan akhir pertemuan kelas. Kalau disana salah seorang siswa maju untuk memimpin/membacakan doa sementara siswa yang lain mendengarkan dan menundukkan kepala mengaminkan doa tersebut. Kesan yang saya tangkap adalah kegiatan doa tersebut menjadi lebih terkesan khusyuk. Berbeda dengan sekolah kami, dimana doa dibaca bersama-sama, sehingga terkesan hingar bingar, belum lagi kalau ada siswa yang tidak fokus dengan doa (ada yang masih ribet mempersiapkan peralatan belajar atau malah mengoda temannya yang tengah berdoa).

Awalnya saya berpikir, itu hanya masalah adab (tata cara) dalam berdoa, dalam agama Kristen adab berdoa dengan dipimpin oleh satu orang, sementara dalam agama Islam tidak ada adab seperti itu. Akan tetapi saat sharing dengan teman guru yang di tugaskan di sekolah lain ternyata beliau juga merasakan hal yang sama. Beliau di tugaskan di sekolah swasta berbasis agama Islam, saat awal dan akhir pertemuan belajar doa dipimpin oleh satu orang, bedanya kalau di sana doa dipimpin oleh salah seorang guru dari ruang guru yang disiarkan lewat pengeras suara ke masing-masing kelas.

Hal yang kedua adalah setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai ada meeting (pertemuan) pagi staff sekolah dan guru yang mengajar hari itu. Pertemuan pagi tidak berlangsung lama,hanya sekitar 5 menitan yang kemudian ditutup dengan doa bersama (hal tersebut mengingatkan saya saat pernah mengalami jadi sales). Dari pengamatan saya kegiatan meeting pagi pada bidang kerja apapun baik itu sales ataupun sekolahan fungsinya sama, yaitu sebagai mood booster, penambah semangat sebelum beraktifitas. Tidak bisa dipungkiri, kerja di bidang pendidikan pun butuh tenaga dan pikiran yang lebih, tak jarang pula guru merasa nglokro (lemas/males) saat mau masuk ke kelas tertentu, mungkin karena ada siswa yang bandel di kelas tersebut, mugkin guru yang bersangkutan ada masalah saat itu, atau kemungkinan-kemungkinan lainnya. Dengan adanya meeting pagi ditambah doa bersama sebelum beraktifitas bisa menjadi penguatan, penambah semangat agar guru lebih siap dalam menghadapi segala macam tantangan hari tersebut.

Ada yang berargumen bahwa doa merupakan kebutuhan pribadi, tiap orang bisa dipastikan selalu berdoa sebelum melakukan kegiatan sehari-harinya, sesuatu hal yang sifatnya otomatis. Namun demikian dua sederhana diatas,menurut saya dampaknya positif, baik bagi siswa maupun bagi guru yang mengajar.

Friday, 24 October 2014

Kisah Setoples Kue Di Perpus Sekolah

Salah satu kebiasaan baru saya adalah meletakkan setoples camilan diatas meja kerja di perpus. Biasanya sih kue kering jahe kesukaan saya. Selain untuk saya makan sendiri, saya juga pengen tahu gimana reaksi anak-anak.

Awalnya mereka hanya ngeliatin aja toples diatas meja. Ada juga yang berkomentar

"Wih... Ada kue nih."

Dan saya dengan cueknya menjawab "Yups..."

Si anak yang berkomentar cuman nyengir

Sampai pada suatu saat, (akhirnya) ada anak yang bertanya

"Boleh minta kuenya nggak pak?"

Sebuah respon yang saya tunggu dari lama.

"Boleh saja, ambillah." kata saya

Apa yang dia lakukan, diikuti oleh banyak teman-temannya.

Daaan... Berhubung kue yang saya masukkan adalah kue kering jahe, banyak respon dari mereka, dari yang

"Koq pedes pak?"

Sampai komentar

"Koq keras kayak batu?"

Namun demikian, walaupun banyak komentar negatif, setiap kali saya mengisi ulang toples, selalu saja ada anak yang minta, bahkan tidak sampai sehari, isi toples sudah ludes dimintai anak-anak.

Bahkan tak jarang, kalau saya tidak mengisi toples, selalu saja ada anak yang nanyain

"Koq toplesnya nggak ada isinya pak?"

"Koq nggak bawa kue lagi?"

Respon-respon yang bikin saya ngakak mendengarnya.

Diluar "kebrutalan" dan "kesadisan" mereka dalam menghabiskan kue (iye, bahasanya terlalu lebay). Satu hal positif adalah mereka masih punya sopan santun dalam meminta, tidak asal comot dan ambil.

Monday, 26 May 2014

Piknik, Lesehan dan Sekaleng Kerupuk

Tengah asyik-asyiknya kegiatan motivasi bareng anak-anak, tiba-tiba seorang anak (sebut saja namanya Cempluk) menyeletuk

"Pak, kelar UN kita piknik ya?" kataya

Dan ditanggapi ramai oleh teman-temannya yang lain

"Iya pak, buat refreshing, biar nggak stress gitu."

"Ke Jogja aja pak, ke pantai apa itu lho yang baru itu.... Apa namanya?" Kata si Cempluk lagi

Lah? Koq tanya saya? Blom sempat saya jawab, si Cipluk menyeletuk

"Ke Bali aja pak.... Yah... Yah...."

Gubraks.... Yang kebayang deh ngurusin 13 anak-anak itu sendirian. Ke Bali pulak. Nggak deh makasih :D

Bingung mau jawab apaan, kalau ditolak mereka bakalan protes nggak berkesudahan. Akhirnya saya jawab.

"Yaudah, itu dipikir ntar, yang penting kalian fokus ke UN dulu."

Anak-anak udah buka mulut mau protes, saya dahului

"Ndak boleh protes." *Sambil pasang tampang galak :D*

Pada kurun waktu yang bersamaan, si Cuplik (salah satu siswi saya juga) curhat tentang rencana dia mau ngajakin teman-teman dia buat dolan merayakan ultahnya, namun sayangnya teman-temannya pada cuek, banyak yang beralasan nggak bisa ikutan. Usut punya usut ternyata itu kejutan buat si Cipluk. 

Akhirnya pada pertemuan berikutnya, setelah ngecuprus ngasih nasehat and the bla and the bla, saya pun bilang.

"Mengenai rencana piknik, berhubung selesai UN ntar tugas masih banyak, nyiapin UKK buat kelas 7 & 8, persiapan buat perpisahan kalian, kemudian ada lagi PPDB maka saya limpahkan, kalian tagih si Cipluk yang mau ultah."

Sengaja saya beralasan seperti itu, agar mereka juga menyadari kondisi saya dan saya mengajukan si Cipluk bukan sebagai "korban" tapi emang dia udah punya rencana buat ngajak dolan teman-temannya. Jadi (menurut saya) itu penyelesaian yang paling pas dan sesuai untuk semuanya.

Anak-anak sempat bisik-bisik, sementara si Cipluk tersupi-supi, kembang kempis malu-malu :))

"Tapi.... Saya memberikan ijin kalian buat dolan SETELAH UN." kata saya

"Yah pak... Ultahnya Cipluk kan sebelum UN pak?" kata si Cempluk

"Ya nggak apa-apa tho? Nggak harus pas tanggalnya ini juga."

"Ntar uangya keburu habis pak..." kata si Cipluk.

"Simpan dulu dong, biar dibawa ibu kamu dulu, ntar selesai UN baru kamu minta." kata saya.

Walaupun masih di warnai dengan grundelan dari anak-anak, tapi mereka sedikit banyak sudah bisa menerima, sampai menjelang UN, selama UN dan setelah UN tidak ada yang menagih piknik lagi.

Hingga suatu hari selesai UN, kami berkumpul ngobrol-ngobrol, tiba-tiba si Cuplik nyeletuk.

"Pak... Kapan piknikya???"

"Lah? Bukannya kalian udah dolan sama si Cipluk?"

"Nggak jadi pak...." kata anak-anak kompak menjawab.

"Duite keburu habis..." Kata si Cipluk dengan tampang lucu

"Koq bisa?" 

"Habisnya... Kata pak guru nggak boleh dolan sebelum UN, yaudah duitnya habis buat jajan." Kata si Cipluk lagi

Saya ngakak mendengar jawabannya

"Yaudah... Gini aja, acara piknik kita ganti dengan makan lesehan aja gimana?" kata saya

"Dimana pak?" kata anak-anak

"Di sini aja, di aula sekolah." jawab saya

"Ntar makanannya bawa sendiri-sendiri..." kata Cuplik

"Nggak... Untuk makanan saya yang bawa buat kalian." Kata saya.

"Asyik...." anak-anak serempak menjawab.

"Tapi saya cuman bisa menyediakan 2 macam makanan, nggak papa yah?" kata saya

"Nggak papa pak... Nggak papa." Kata si Cempluk

"Yaudah, kita lesehannya besok yak. Tak bawain kerupuk sama karak." Kata saya sambil nyengir.

"Yah pak... Podho wae..." Kata anak-anak sambil cemberut

Saya cuman ngakak ngeliatnya.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites