Sekolah

Cerita-cerita yang terjadi di sekolah

Cerita Sehari-Hari

Hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari

Internet

Segala sesuatu yang berhubungan dengan internet dan blogging

Jamban Blogger

Jamban Blogger

Tulisan Jaw merupakan anggota dari Jamban Blogger

Friday, 10 July 2015

ngaMall di Bulan Ramadhan

Saya sangat jarang menghabiskan waktu ngabuburit, atau malam hari selepas maghrib dengan jalan-jalan di mall. Selain tidak hobi, alasan paling utama tidak ada duit :p Tapi sesekali boleh lah jalan-jalan di mall sambil refreshing menghilangkan kejenuhan di rumah.

Seperti yang sudah diketahui setiap orang, yang namanya mall kalau bulan Ramadhan pasti rame nya. Apalagi kalau menjelang Idul Fitri, udah berasa kayak di pasar tradisional, tumpah ruah berdesak-desakan. Dengan berbagai macam tujuan, dari belanja kebutuhan sehari-hari, kebutuhan Idul Fitri, nonton film (kalau mall nya ada gedung bioskop), sekedar jalan-jalan, atau yang anti mainstream main ke mall untuk nyopet #Eh

Nyinyiran/sindiran mengenai fenomena ini sudah aja sejak puluhan tahun lalu (waktu itu mall di kota Solo belum sebanyak sekarang), dimana shof sholat di masjid mengalami kemajuan karena berkurangnya jamaah sholat karena orang-orang sibuk ngaMall memasuki pertengahan sampai akhir bulan Ramadhan.

Banyak daya tarik (godaan) yang ditawarkan oleh mall. Dari mulai potongan harga, tawaran hadiah, sampai "kesadaran" masyarakat untuk mempersiapkan diri dalam menyambut Idul Fitri. Kata kesadaran saya beri tanda kutip karena yang saya lihat terjadi salah kaprah dalam pemahaman menyambut Idul Fitri. Kebanyakan orang mempersiapkan diri menyambut Idul Fitri dengan belanja berbagai macam hal, dari mulai baju, makanan, perlengkapan rumah, bahkan sekarang bergeser/bertambah dengan "kesadaran" untuk memperindah rumah dengan membeli peralatan elektronik baru. Yang beli TV/peralatan audio/kulkas atau alat elektronik lain demi Idul Fitri adaaa... I would say that's unbelievingly amazing!

Kesadaran masyarakat itu didukung dengan adanya berbagai macam tawaran kemudahan dari mall. Berbagai macam diskon (sampai 50% lebih) dan penawaran hadiah, membuat orang menjad kalap dalam belanja.

Seorang teman saya pernah berkata

"Ayo beli, mumpung ada diskonan. Kapan lagi bisa beli barang ginian dengan harga murah?"


Padahal kalau kita mau mengamati, dalam satu tahun, ada banyak event yang "mewajibkan" pihak mall/toko untuk melakukan penawaran potongan harga. Saya sebut wajib karena pada saat-saat tersebut bisa dipastikan ada diskonan. Mulai dari tahun baru (yang biasanya digabung dengan event natal dan akhir tahun - end year sale). Memasuki bulan Februari ada sale dalam rangka menyambut Valentine, disusul dengan Imlek, Paskah, Idul Adha, sale pertengahan tahun (awal tahun ajaran baru). Bulan Agustus ada sale menyambut ulang tahun kemerdekaan RI (masih adakah yang terlewat? Belum lavi kalau pihak mall/toko ber ulang tahun, atau event khusus semacam *Sisipkan Nama Kota Disini* Great Sale, dll.

Dan, walaupun tema utama menyesuaikan event yang ada (contoh saat Idul Fitri kita akan banyak menemukan pakaian muslim, dst). Tapi potongan harga berlaku juga untuk produk-produk lainnya. Tentu saja besaran potongan harga sepenuhnya kewenangan dari pihak toko untuk menentukan.

Kesimpulannya, belanja apapun sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan khilaf dan kalap dalam berbelanja saat godaan diskon begitu gencar menerpa. Justru jadikanlah sebagai budak anda. Contoh, anda butuh sepatu karena sepatu lama anda sudah butut, kebetulan ada diskonan untuk produk tersebut. Jangan malah sebaliknya khilaf dan kalap saat melihat diskon, tanpa pikir panjang langsung beli, begitu sampai rumah baru kepikiran

"Kenapa tadi gue beli ya? Di rumah kan masih ada banyak?"

Yang ada malah jadi mubazir dan nyesel.

N.B. Oh iya, sudah tiga tahun ini lho saya tidak belanja baju buat lebaran. Yang mau kirim parcel baju lebaran, silahkan komentar di comment box #Eh #KemudianDiKeplakiOrangSeRT

Monday, 6 July 2015

Mengisi Liburan Panjang

Salah satu kegembiraan, atau bisa saya bilang kegembiraan terbesar dari (sebagian besar) pelajar adalah saat liburan. Bukan tanpa dasar saya menyatakan hal tersebut, sangat sering saya menerima pertanyaan-pertanyaan dari siswa di sekolah kami

"Pak libur panjangnya kapan ya?"

Pertanyan semacam itu mereka lontarkan di pertengahan semester, bahkan tak jarang ada juga yang bertanya di awal-awal semester. Saking seringnya saya menerima pertanyaan tersebut, saya suka ngasal dan cuek jawabnya.

"Ntar hari Minggu kalian libur." Atau kalau enggak

"Ntar tanggal 17 Agustus." Atau tanggal merah hari libur nasional.

Walaupun mereka menanti-nanti dan sangat menikmati liburan, namun sebenarnya mereka bosan juga kalau liburnya terlalu lama. Sering kali sehabis libur panjang giliran saya yang bertanya.

"Liburan kemarin kalian kemana aja?"

Walaupun jawaban mereka beranekaragam, namun ada satu kesamaan

"Bosan pak kelamaan libur di rumah g ada kerjaan, acara TV mbosenin."

Giliran saya yang ketawa mendengar jawaban mereka.

Untuk libur kenaikan kelas tahun ini kebetulan bertepatan dengan puasa Ramadhan dan Idul Fitri dan sekolah kami termasuk salah satu sekolah yang meliburkan seluruh kegiatan KBM selama Ramadhan dan libur Idul Fitri, KBM aktif kembali tanggal 27 Juli 2015.

Saya jadi membayangkan bagaimana kebosanan mereka selama liburan, jika mereka tidak punya rencana/acara untuk mengisi liburan.

Liburan akhir tahun pelajaran tahun kemarin lumayan panjang juga, saya semat menawarkan di facebook saya untuk anak-anak yang mau bisa main ke sekolah untuk belajar origami bersama-sama. Saya pikir daripada mereka tidak ada kerjaan mending di arahkan ke hal yang positif. Kebetulan tahun kemarin ada jadwal piket untuk guru. Namun sayangnya tidak ada anak yang menerima tawaran saya walaupun gratis.

Sementara untuk tahun ini, saya tidak mendapatkan pemberitahuan tentang piket. Satu hal positif sih menurut saya jadi saya bisa fokus untuk mengurus orang tua di rumah :D
Libur sekolah, apalagi libur panjang sekolah merupakan salah satu tantangan lain yang harus dihadapi oleh orang tua sendirian, tidak ada lagi sekolah yang me back up mereka, yang bisa mereka pasrahi kewajiban untuk mendidik anak.

Hal ini menuntut kreatifitas orang tua dalam mengarahkan anak-anak mereka secara mandiri selama liburan. Dan, sebenarnya tidaklah sulit serta membutuhkan biaya yang banyak. Contoh sederhana, melibatkan anak dalam pengelolaan rumah tangga, membagi tugas dan melatih anak-anak tugas-tugas rumah tangga, melibatkan anak-anak dalam pekerjaan (ada beberapa siswa yang memiliki orang tua pedagang, dan sepulang sekolah mereka membantu orang tua berjualan).

Kegiatan lain yang bisa diakukan adalah melibatkan anak dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan atau religius, terlebih karena ini bulan Ramadhan, banyak kegiatan seperti TPA, baik menjadi siswa maupun asisten pengajar, membantu ta'mir masjid membersihkan masjid, mengatur masjid sebelum digunakan untuk sholat, dll.

Dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan positif ain yang bisa dilakukan saat libur panjang. Kegiatan-kegiatan yang tidak membutuhkan banyak biaya namun banyak manfaatnya. Tentu saja kegiatan-kegiatan yang membutuhkan biaya semacam piknik atau menonton bioskop pun juga tidak dilarang selama itu sifatnya positif.

Selamat liburan panjang untuk semuanya dan selamat berkreatifitas untuk para orang tua dalam mengasuh putra putrinya selama liburan panjang ini.

Oh iya, blogging juga bisa dijadikan salah satu alternatif yang bisa dilakukan saat liburan :D

Sunday, 5 July 2015

Obrolan Dengan Satpam Bank

Di suatu siang nan terik terjadilah percakapan antara nasabah bank (Me) dengan satpam bank di tempat parkir bank tersebut.

Me: "Pak satpam mau tanya." 

Kata saya sambil mencolek pak satpam yang tengah sibuk membantu mengatur parkir.


Satpam: "Iya, ada yang bisa dibantu?" Kata pak satpam dengan ramah.

Me: "Selain disini kantor cabang mana lagi yang ada mesin setor tunia nya?"

Satpam: "Di kantor cabang Solo Baru ada mas."

Me: (sambil mikir) "Yang sebelah mana ya?"

Satpam: "Deretan ruko depan Hartono Mall itu lho mas."

Masih mengingat-ingat, setahu saya di depan Hartono Mall adanya minimarket dan kantor leasing. Agak dekat ada bank tapi bukan bank yang sama.

Me: "Seingat saya yang dekat patung Pandawa itu ya pak?"

Satpam: "Iya, itu yang saya maksud."

Me: "Lah pak, itu mah jauh dari Hartono Mall."

Satpam: "Kalau mau belok kan harus muter dulu lewat patung Pandawa."

Sambil tetap dengan senyumnya


Me: Aaaaaarh.... 

#Mbrakoti_Aspal_Jalan

Friday, 3 July 2015

Aku Menulis Maka Aku Ada

Cogito ergo sum, sebuah ungkapan dari Renè Descartes yang artinya aku berpikir maka aku ada.

Proses berpikir merupakan bagian dari akal budi yang merupakan pembeda antara manusia dengan mahkluk lain. Manusia dianugerahi akal dan budi agar manusia berkembang dan mengembangkan dirinya.

Sehubungan dengan proses berpikir yang dimilikinya, manusia membutuhkan media untuk mengungkapkan/ mengkomunikasikan pikirannya tersebut kepada orang lain. Media yang biasa dipakai adalah media tulisan. Karena cakupannya yang lebih luas dibandingkan media lisan. Dan dengan tulisan pula ide atau pemikiran kita masih bisa di ketahui orang lain puluhan bahkan ratusan tahun setelah pemikiran tersebut muncul.

Sehubungan dengan hal tersebut, menurut saya menulis adalah sebuah kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang terlepas dari tingkat pendidikan, strata sosial maupun jenis pekerjaan. Menulis merupakan sebuah pekerjaan yang mudah dan sederhana, selama seseorang sudah mengenal abjad maka dia sudah bisa menulis.

Namun demikian merangkai kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi sebuah paragraf yang komunikatif, menarik dan bagus, bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Penguasaan materi dan (yang paling penting menurut saya) latihan secara terus menerus akan seseorang pandai dalam menulis. Seperti kata pepatah "Kota Roma tidak dibangun dalam satu hari." Demikian juga kecakapan dalam menulis.

Saya menyadari bahwa saya bukan termasuk penulis yang handal, bertahun-tahun latihan nge blog, masih banyak kekurangan saya. Materi yang terlalu dangkal, tema tulisan yang tidak menarik, dan sebagainya. Saya masih berproses dan akan terus berproses agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Mempertahankan eksistensi saya sebagai manusia yang berpikir, melatih otak saya agar terus berpikir, agar terus berkembang serta melatih kreatifitas saya. Karena saya berkeyakinan ketika seseorang berhenti berpikir, tidak mau mengembangkan pola pikirnya maka tidak ada bedanya dengan orang mati. Kritikan dan masukan saya terima dengan senang hati, justru dengan adanya kritikan dan masukan lah saya bisa mengetahui kekurangan saya. Jika ada yang salah maka koreksilah.

Mari kita budayakan menulis, mengungkapkan ide-ide kita dalam bentuk tulisan. Agar orang lain bisa memahami kita. Dan jangan pasung kreatifitas seseorang, jangan larang seseorang untuk menulis hanya karena tulisannya tidak menarik. Karena bisa jadi tulisan kita tidak lebih baik dari tulisan orang tersebut.

Thursday, 21 May 2015

Antara Upin Ipin & Adit Sopo Jarwo

Sepulang sekolah, hampir bisa dipastikan saya selalu menemani keponakan saya menonton TV, berbagai macam film kartun ditonton, tidak peduli udah puluhan kali diputar ulang :))
Dari sekian banyak film kartun yang ditonton, ada 2 film kartun yang menari perhatian saya. Upin Ipin & Kawan-Kawan (UIDKK) serta Adit & Sopo Jarwo (ASJ) yang ditayangkan di stasiun TV yang sama dan berurutan pula (dulunya, kalau sekarang ada jeda film kartun lain).

Secara grafis keduanya sama-sama menarik. Kartun ASJ yang merupakan produk buatan putra putri Indonesia tidak kalah dengan kartun UIDKK yang merupakan produk negara jiran Malaysia. Bahkan saya perhatikan ada banyak detail yang menarik seperti adegan dua ekor burung yang tengah bercengkrama diatas pohon yang muncul di beberapa episode, adegan yang menurut saya jika tidak ada pun tidak akan merusak alur cerita, namun dengan hadirnya adegan tersebut menjadi sebuah bumbu pemanis.

Perbedaan besar yang mencolok dari kedua film tersebut terletak pada alur cerita/ penceritaannya. Secara umum kartun ASJ hanya bersifat hiburan ceritanya ringan, sementara kartun UIDKK lebih mempunyai isi/pesan. Di setiap episodenya kartun UIDKK menyampaikan pesan yang berbeda-beda. Ada episode tentang mematuhi orang tua, mencintai buah-buahan lokal, menabung, tidak boleh ceroboh dan lain-lain.

Satu episode yang saya jadikan pembanding adalah saat kehadiran bintang tamu di kedua serial tersebut. Serial UIDKK memilih P Ramlee sebagai bintang tamunya, sedangkan kartun ASJ memilih Cherrybelle. Dari tokoh yang dimunculkan saja sudah kelihatan perbedaannya. P Ramlee merupakan artis besar pada masanya (bahkan sampai sekarang) bukan hanya di Malaysia tapi juga di negara sekitar termasuk Indonesia. Sedangkan Cherrybelle girlband dari Indonesia dengan prestasi yang jauh dibawah prestasi P Ramlee.

Untuk alur ceritanya pun berbeda jauh. UIDKK episode P Ramlee banyak menampilkan/mengulas mengenai sang tokoh, nostalgia film-film lama beliau. Sedangkan ASJ episode Cherrybelle lebih banyak menampilkan suka ria, menari bersama, menyanyikan lagu dari artis bersangkutan (saya rasa episode ini lebih ke arah promo album dari CherryBelle).

Satu hal lagi yang mengganjal setiap kali saya melihat kartun ASJ yaitu tokoh pak Haji (yang di isisuarakan oleh Deddy Mizwar penampilannya pun mirip dengan beliau). Kehadiran tokoh ini terkesan untuk menghakimi si Jarwo, terbukti ketika satu episode dimana ayah dari Adit lalai dalam mengawasi adiknya Adit sehingga seluruh desa sibuk mencarinya si tokoh pak Haji ini tidak menasehati/menceramahi tokoh ayah Adit atas kelalaiannya tersebut.

Saya harap para penggarap/rumah produksi yang membuat kartun ASJ lebih memperhatikan alur ceritanya, belajar dari kartun negeri tetangga UIDKK. Mencari penulis cerita yang handal dan lebih selektif dalam memilih cerita yang akan di filmnya. Sehingga nantinya bukan hanya grafisnya yang enak di lihat namun juga kartun yang syarat makna.

N.B
Sekarang di stasiun TV yang sama menayangkan kartun Pada Zaman Dahulu, kartun berisi dongeng Kancil Yang Bijak. Sebuah kartun yang syarat dengan pesan-pesan moral namun menurut saya tidaklah membosankan untuk diikuti dan dinikmati.

Sumber foto: google image

Saturday, 18 April 2015

SEKOLAH YANG MENYENANGKAN

“Depresi, Guru Terima Kompensasi Rp 8,5 M” merupakan judul salah satu berita yang ada di harian Solopos tertanggal 6 September 2014. Sebuah realitas bahwa sekolah juga bisa menjadi pemicu stress, bukan hanya untuk peserta didik, namun juga untuk Tenaga Pendidik (Guru) dan Tenaga Non Kependidikan yang berperan di dalam sebuah sekolahan.
Tekanan (stressor) yang dialami oleh guru diantara adalah berkenaan dengan tugas pokoknya yaitu mengajar peserta didik. Guru dituntut untuk tidak hanya menyampaikan materi, namun juga tuntutan agar peserta didik memahami materi pelajaran ada di tangan guru. Suatu hal yang tidak mudah karena guru harus menghadapi 20-40 orang peserta didik setiap kelasnya (dikalikan jumlah rombongan belajar yang ada di sekolah tersebut) dengan berbagai macam sifat, kepribadian dan tingkah laku. Dalam artikel berjudul diatas disebutkan beberapa tingkah laku ekstrim yang dihadapi guru tersebut diataranya: memanjat dinding, mempersenjatai diri dengan meyemburkan api darurat dan membakar kaus pelajar lainnya.
Sumber stress lain yang dihadapi guru diantaranya lingkungan kerja, pergaulan dengan sesama rekan kerja, tuntutan dari atasan/yayasan/kementrian yang juga dialami oleh pekerja di bidang lain. Dan masalah klasik mengenai kesejahteraan yang belum terpenuhi, khususnya bagi guru honorer non PNS.
Untuk menekan, mengurangi dan kalau bisa menghilangkan stressor-stressor yang ada di sekolah adalah dengan menjadikan sekolah sebagai tempat (kerja) yang menyenangkan bagi semua baik siswa maupun guru. Beberapa contoh konkret yang bisa dilakukan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi semua diantaranya:
Meciptakan suasana sekolah yang serius tapi santai di sekolah, sehingga guru dan siswa nyaman berada di sekolahan.
Memutarkan musik yang menenangkan. Beberapa sekolah besar memiliki radio sekolah, selain bisa sebagai sarana menyampai informasi, bisa juga sebagai sarana mengembangan potensi siswa dan juga relaksasi.
Secara berkala melakukan kegiatan bersama seluruh anggota sekolah yang sifatnya diluar tuntutan sekolah, misalnya:
Jalan-jalan keliling lingkungan sekolah, selain santai juga sebagai sarana pengenalan sekolah kepada masyarakat sekitar.
Kegiatan kreatifitas siswa, selain classmeeting yang diadakan di akhir semester, kegiatan kreatifitas siswa bisa diadakan kapan saja selama memungkinkan. Bisa memafaatkan kerjasama dengan perusahaan yang mempunyai program “Goes To School” kepada sekolah-sekolah.
Piknik bersama, piknik yang saya maksud adalah piknik sederhana, tidak perlu jauh, memerluka persiapan yang ribet dan memakan waktu dan tenaga. Piknik bisa dilakukan di dalam kota, bahkan di halaman sekolah. Intinya adalah berkumpul bersama silaturahmi sesama anggota sekolah.
Pengajian/Siraman Rohani.
Masih ada banyak kegiatan menyenangkan lainnya yang bisa dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, baik untuk guru dan karyawan, maupun untuk semuanya. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut maka akan menekan tingkat stress pada guru serta siswa, dan pada akhirnya akan meningkatkan kinerja guru serta prestasi siswa sebagaimana yang diharapkan oleh semua pihak.

Saturday, 11 April 2015

Tren Kunjungan ke Perpustakaan

UKunjungan siswa ke perpustakaan sekolah mengalami pasang surut, ada kalanya siswa senang datang ke perpustakaan sekolah. Sehingga ruangan perpustakaan penuh dengan siswa yang beraktifitas. Namun ada kalanya juga perpustakaan sekolah sepi dari siswa.

Berdasarkan pengamatan saya sebagai petugas perpustakaan, ada beberapa hal yang menyebabkan siswa mengunjungi perpustakaan sekolah (tren kunjungan).

Pada awal tahun pelajaran, kebanyakan siswa yang berkunjung ke perpustakaan sekolah adalah siswa baru kelas 7, mereka kebanyakan meminjam buku bacaan (novel) atau sekedar membacanya di ruangan perpustakaan. Namun dengan berjalannya waktu tren ini berkurang bahkan hilang dengan sendirinya karena jumlah buku bacaan tidak bertambah.

Tren yang kedua adalah siswa datang ke perpustakaan untuk meminjam buku referensi penunjang pembelajaran. Untuk tren yang satu ini bisa dikatakan berlangsung sepanjang tahun, tergantung pada guru mapel bersangkutan. Sayangnya tidak banyak guru mapel yang "mendorong" siswa untuk mencari referensi ke perpustakaan sekolah. Kebanyakan siswa mencari referensi berupa kamus (Inggris, Indonesia, Arab) dan buku Pepak Boso Jawa dan terkadang atlas. Untuk mapel yang lain belum ada.

Tren berikutnya adalah, siswa datang ke perpustakaan untuk makan. Saya memang sengaja memperbolehkan siswa untuk makan di ruangan perpustakaan, dengan catatan harus menjaga ruangan. Saya pikir tidak ada salahnya mengijinkan siswa untuk makan di ruangan perpustakaan, lagi pula tidak/ belum ada tempat khusus buat makan, lagi pula bisa sekalian mengawasi siswa. Yang makan di perpustakaan kebanyakan siswa kelas 8 dan 9. Makanan yang mereka bawa bukan hanya makanan ringan, namun tak sedikit pula yang membawa nasi bekal dari rumah. Kendala yang terjadi terkadang ada anak yang jahil, ngrusuhi temannya yang sedang makan. Ada satu siswa kelas 8 yang bahkan sampai kapok makan di perpustakaan karena sering diganggu temannya.

Di perpustakaan ada sebuah TV ukuran 14 inci yang menjadi daya tarik siswa untuk datang ke perpustakaan, terutama saat awal dulu, walaupun TVnya kecil, gambarnya tidak terlalu jelas dan salurannya terbatas + tanpa remote, siswa tetap nonton TV. Namun dengan berjalannya waktu tren ini bergeser juga, sekarang tinggal satu dua orang siswa yang menikmati menonton TV di perpustakaan, tidak ada lagi ribut rebutan channel TV.

Tren terakhir yang terjadi akhir-akhir ini adalah siswa datang ke perpustakaan untuk mengisi TTS di koran. Saya bersyukur siswa mempunyai inisiatif seperti itu, saya rasa TTS bagus sebagai sarana mereka untuk belajar. Saya sering menyampaikan.

"Ntar kalau kalian sudah selesai, coba kalian kirimkan ke redaksi, lumayan lho klo menang dapat duit buat kalian jajan."

Kata saya sambil memperlihatkan informasi hadiah.


Pada awalnya siswa bersemangat mengisi TTS bersama-sama, tapi kemudian ketika mereka tidak tahu jawabannya, mereka mulai bertanya kepada saya. Satu pertanyaan, dua, tiga... 

Lama-lama semua pertanyaan dimintai jawaban ke saya.

"Kalian itu kayak upin ipin, semua pertanyaan saya yang harus jawab." Kata saya.

Dan seperti tren lainnya, tren yang satu ini juga berlalu dengan berjalanya waktu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites